TUJUAN
Memahami konsep trunking dengan 3 Switch
DASAR TEORI
Dalam istilah
komunikasi, trunk atau trunking adalah konsep dimana sistem komunikasi dapat
menyediakan akses jaringan untuk banyak klien dengan berbagi satu set garis
(peraturan) atau frekuensi, bukan memberikannya secara individual. Dari
pengertian di atas, jika dihubungkan dengan konsep jaringan komputer, maka
trunk dapat dikatakan sebagai konsep pembagian akses antar jaringan dengan menggunakan perangkat jaringan, yang
dalam hal ini adalah switch dan menggunakan suatu set peraturan yang ditetapkan
dimana tidak sembarang komponen dapat mengakses komponen lain dalam jaringan
lain. Lebih simple-nya, konsep trunk membatasi akses antara satu jaringan
dengan jaringan lainnya.
Konsep Trunk
Jika suatu port pada switch di set ke switchport mode access, maka port tersebut hanya akan bisa dilewati oleh 1 VLAN, yaitu VLAN yang di assign ke port tersebut karena tidak mungkin satu port dengan mode access di assign ke lebih dari 1 VLAN.
Jika jumlah port pada switch sudah tidak mencukupi untuk jumlah PC, maka mau tidak mau anda harus menambah switch baru untuk tambahan port. Lalu bagaimana jika switch-switch yang akan anda hubungkan itu masing-masing berisi lebih dari 1 VLAN? sementara dengan port mode access hanya bisa membawa 1 VLAN? Nah, disini lah anda membutuhkan Trunk.
Dalam VLAN trunking ada beberapa poin yang harus diperhatikan :
- Port mode
- Trunk Encapsulation
- Native VLAN
Switch Port Mode
Berikut mode-mode port pada layer 2 switching :
- Mode access.
Port dengan
mode ini hanya akan bisa membawa 1 VLAN. Itulah mengapa mode ini biasanya hanya
di set di port switch yang terhubung ke Endpoint (PC, Server , dll). Port mode
access bisa saja di gunakan untuk menghubungkan switch ke switch lain jika port
tersebut memang benar-benar hanya digunakan untuk membawa 1 VLAN.
- Mode Trunk.
Port switch
pada mode trunk bisa untuk membawa banyak VLAN. Port mode ini akan menjadi
trunk jika port pada switch lawan di set ke mode trunk atau Dynamic
Trunking Protocol.
Mode trunk akan membuat port switch menjadi trunk port secara permanen dan akan memaksa port switch lawan nya untuk membentuk trunk link.
Dynamic Trunking Protocol (DTP)
Untuk negosiasi pembentukan trunk port secara dinamis, bisa menggunakan DTP (Dynamic Trunking Protocol) yang akan secara dinamik mengirimkan atau hanya menerima DTP advertisement.
DTP merupakan protokol Cisco proprietary artinya protokol ini di kembangkan oleh Cisco dan hanya bisa digunakan di switch Cisco.
Berikut adalah port mode pada DTP :
Mode trunk akan membuat port switch menjadi trunk port secara permanen dan akan memaksa port switch lawan nya untuk membentuk trunk link.
Dynamic Trunking Protocol (DTP)
Untuk negosiasi pembentukan trunk port secara dinamis, bisa menggunakan DTP (Dynamic Trunking Protocol) yang akan secara dinamik mengirimkan atau hanya menerima DTP advertisement.
DTP merupakan protokol Cisco proprietary artinya protokol ini di kembangkan oleh Cisco dan hanya bisa digunakan di switch Cisco.
Berikut adalah port mode pada DTP :
- Mode Dynamic Auto.
Ini adalah mode default untuk port
switch Cisco. Port mode ini bersifat passive dalam negosiasi
trunk, artinya port ini hanya akan memerima DTP advertisement dari port switch
lawannya.
Port ini akan menjadi trunk hanya jika port switch lawan nya adalah mode Trunk atau Dynamic Desirable.
Port ini akan menjadi trunk hanya jika port switch lawan nya adalah mode Trunk atau Dynamic Desirable.
- Mode Dynamic Desirable.
Mode ini adalah kebalikan dari mode dynamic auto,
jika pada dynamic auto bersifat passive dalam negosiasi trunk,
maka mode dynamic desirable adalah bersifat active. Port mode
ini akan secara aktif mengirimkan DTP advertisement ke port switch
lawannya.
Port ini akan menjadi trunk port hanya jika port lawan nya adalah dynamic auto, trunk, atau dynamic desirable itu sendiri.
Port ini akan menjadi trunk port hanya jika port lawan nya adalah dynamic auto, trunk, atau dynamic desirable itu sendiri.
Pada
kenyataannya, menggunakan DTP untuk negosiasi trunk port akan berdampak pada
masalah network security karena jika ada switch asing yang
terkoneksi ke switch di jaringan internal anda maka switch asing tersebut bisa
membentuk trunk port dengan switch anda dan bisa mengakes semua VLAN di
jaringan anda, tentu hal ini akan menjadi masalah security. Untuk mengatasi hal
tersebut anda bisa nonaktifkan DTP secara total dengan menggunakan Switchport
Nonegotiate yang kompatibel dengan mode trunk dan mode
access.
Port nonegotiate ini akan mengabaikan DTP advertisement, jadi untuk membentuk trunk di port ini maka interface pada swtich lawan juga harus di set ke mode trunk secara manual.
Port nonegotiate ini akan mengabaikan DTP advertisement, jadi untuk membentuk trunk di port ini maka interface pada swtich lawan juga harus di set ke mode trunk secara manual.
Trunk Encapsulation.
Perhatikan ethernet frame berikut :
Gambar di
atas merupakan isi dari ethernet frame pada ethernet switching (Layer
2) traffic.
Trunk beroperasi pada layer 2 switching, sementara di ethernet frame tersebut tidak ada field untuk VLAN. Jika ada traffic yang masuk ke sebuah switch dan akan dilewatkan ke trunk port, lalu bagaimana switch ini mengetahui traffic tersebut milik VLAN mana?sementara pada ethernet frame tidak field VLAN?
Maka dari itu di perlukan yang namanya trunk encapsulation. Ada 2 trunk encapsulation yang digunakan di swtich Cisco yaitu ISL (Cisco Propriatery) dan IEEE 802.1q (open standard). Trunk encapsulation default pada switch Cisco adalah 802.1q. ISL hanya support di beberapa switch Cisco dan ISL sudah sangat jarang digunakan lagi, oleh karena itu kita hanya akan membahas 802.1q
Trunk beroperasi pada layer 2 switching, sementara di ethernet frame tersebut tidak ada field untuk VLAN. Jika ada traffic yang masuk ke sebuah switch dan akan dilewatkan ke trunk port, lalu bagaimana switch ini mengetahui traffic tersebut milik VLAN mana?sementara pada ethernet frame tidak field VLAN?
Maka dari itu di perlukan yang namanya trunk encapsulation. Ada 2 trunk encapsulation yang digunakan di swtich Cisco yaitu ISL (Cisco Propriatery) dan IEEE 802.1q (open standard). Trunk encapsulation default pada switch Cisco adalah 802.1q. ISL hanya support di beberapa switch Cisco dan ISL sudah sangat jarang digunakan lagi, oleh karena itu kita hanya akan membahas 802.1q
Pada gambar di atas, terlihat bahwa ethernet frame di modifikasi dengan menyisipkan field "Tag" yang berisi VLAN ID. Anggap saja misalnya port pada switch di set ke mode access untuk VLAN 10, maka semua packet yang datang dari PC yang masuk ke port tersebut akan di tag dengan VLAN 10. Dari sini lah switch akan tahu dari VLAN mana packet tersebut berasal.
CATATAN :
- Pada access port, semua frame nya adalah untagged. Artinya tidak akan ada penambahan VLAN tag pada ethernet frame jika masuk dan keluar melalui port ini. Hal ini dikarenakan jika ethernet frame masuk dan keluar melalui port di switch yang kedua-duanya adalah access port ,yang pastinya kedua port tersebut di assign ke vlan yang sama, maka switch tidak perlu tahu ethernet frame tersebut datang dari VLAN berapa. Dalam VLAN trunking, hal ini dikenal sebagai untagged frames atau untagged VLAN.
- Pada trunk port, frame nya adalah tagged. Artinya akan ada penambahan VLAN tag pada ethernet frame jika keluar melalui port ini. Hal ini dikarenakan pada umumnya trunk port di switch terhubung ke perangkat layer 3 (router, firewall, dll), yang dimana port pada router tersebut menggunakan sub-interface yang berisi informasi tag vlan, jadi ethernet frame yang keluar lewat trunk port di switch dan mengarah ke router akan di tag agar router tahu traffic tersebut datang dari VLAN berapa. Dalam VLAN trunking, hal ini dikenal sebagai tagged frames atau tagged VLAN.
Native VLAN.
Pada trunk port, memang semua traffic yang lewat adalah tagged frames. Namun agar trunk port dapat beroperasi, harus ada 1 VLAN yang digunakan untuk memproses untagged frames yang masuk ke trunk port. Nah, untagged frames inilah yang merupakan untagged VLAN pada trunk port yang disebut dengan Native VLAN.
Untagged frames ini biasanya berasal dari hub yang dimana traffic nya tidak di tagged sebelum masuk ke trunk port di switch. Begitu masuk ke trunk port, switch akan tag traffic tersebut sebagai native VLAN.
Suatu trunk link hanya bisa mempunyai 1 native VLAN. VLAN ID yang akan dijadikan native VLAN ini harus sama pada kedua port switch yang akan membentuk trunk. Jika berbeda, maka untagged frames tidak akan bisa di forward melewati trunk link.
ALAT & BAHAN
·
Alat
yang digunakan : 1 unit PC/Laptop
·
Bahan
yang diperlukan : Software CISCO Packet Tracer
LANGKAH KERJA
Disini saya akan mengkonfigurasi
trunk dengan 3 switch, langkah – langkahnya :
·
Siapkan
1 unit PC/Laptop yang sudah terinstal aplikasi CISCO Packet Tracer.
·
Lalu
jalankan aplikasinya.
·
Susunan topologi dan ketentuannya, seperti pada gambar dibawah ini
·
Cara
membuat VLAN, mungkin bisa lihat postingan sebelumnya : Studi Kasus Virtual Local Area Network ( VLAN ) dengan 5 Segmen di CISCO Packet Tracer
Sebelum mengkonfigurasi trunk
nya, buat VLAN terlebih dahulu di 3 switch itu, lihat gambar dibawah
Gambar diatas merupakan daftar VLAN di Switch 1
Gambar diatas merupakan daftar VLAN di Switch 2
Gambar diatas merupakan daftar
VLAN di Switch 3
·
Setelah
itu, test ping antara PC0 dan PC3 ( yang berada di switch yang berbeda) atau
antara sesama VLAN
Kalau disitu muncul bacaan “
Request Timed Out “ berarti kita sudah berhasil membuat VLAN.
Agar sesama VLAN tersebut bisa
terhubung kita harus menggunkan mode trunk, langkah selanjutnya :
·
Konfigurasi
port gigabitEthernet di switch 1 dengan mode dynamic desirable, lihat gambar
dibawah
- Lalu konfigurasi juga port gigabitEthernet di switch 2 dan 3 dengan mode dynamic auto, kenapa dynamic auto ? karena tadi di switch 1 konfigurasinya mode dynamic desirable otomatis switch 2 dan 3 harus mode dynamic auto ( boleh juga sebaliknya ), karena bila mode dynamic desirable dan mode dynamic auto dihubungkan akan menjadi mode trunk secara otomatis, lebih jelasnya lihat gambar dibawah
Ingat tadi port yang digunakan
di switch 2 adalah gigabitEthernet 0/1, jadi hanya port itu saja yang di
konfigurasi
Ingat tadi port yang digunakan
di switch 3 adalah gigabitEthernet 0/2, jadi hanya port itu saja yang di
konfigurasi
Ketika di cek apakah benar
akan menjadi mode trunk, dan ternyata benar. Lihat gambar dibawah
Gambar diatas merupakan hasil pengecekan di switch
1
Gambar diatas merupakan hasil pengecekan di switch 2
Gambar diatas merupakan hasil
pengecekan di switch 3
·
Setelah
itu, saya sekarang akan mengkonfigurasi hak akses trunk nya, karena sebelum di
konfigurasi trunk itu akan mengakses semua VLAN, lihat gambar dibawah
Disitu tertulis Vlan allowed
on trunk 1-1005, berarti trunk memberikan hak akses ke semua VLAN, agar hanya
VLAN 10,20 dan 30 saja yang diberi akses, maka ketikkan perintah seperti pada
gambar dibawah
Setelah kita cek lagi, dengan mengetikkan perintah
seperti pada gambar dibawah
·
Lakukan
hal yang sama terhadap switch 2 dan 3
Diatas merupakan konfigurasi pada switch 2
Diatas merupakan konfigurasi
pada switch 2
·
Setelah
itu, test ping kembali antara PC0 dan PC3 ( yang berada di switch yang berbeda)
atau antara sesama VLAN
Apabila test ping kedua muncul
bacaan “ Reply from........” maka konfigurasi sudah berhasil, sekarang antara
sesama VLAN sudah bisa saling terhubung.
KESIMPULAN
Trunk dapat dikatakan sebagai konsep pembagian akses antar
jaringan dengan menggunakan perangkat
jaringan, yang dalam hal ini adalah switch dan menggunakan suatu set peraturan
yang ditetapkan dimana tidak sembarang komponen dapat mengakses komponen lain
dalam jaringan lain. Lebih simple-nya, konsep trunk membatasi akses antara satu
jaringan dengan jaringan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://junisco.blogspot.co.id
Kalian juga bisa lihat videonya, supaya lebih jelas lagi.
Studi Kasus Trunking LAN Dengan 3 Switch di CISCO Packet Tracer - Youtube

